You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Dadapan
Dadapan

Kec. Sedan, Kab. Rembang, Provinsi Jawa Tengah

SELAMAT DATANG DI JENDELA INFORMASI DESA DADAPAN KECAMATAN SEDAN .

Peta Masa Lalu: Menyingkap Lembaran Sejarah Desa Dadapan

Basyar 09 Agustus 2025 Dibaca 1.065 Kali
Peta Masa Lalu: Menyingkap Lembaran Sejarah Desa Dadapan

Awal mula Desa Dadapan dihuni oleh sejumlah kecil keluarga yang menyebar di lereng perbukitan, berbatasan langsung dengan wilayah Kecamatan Kragan dan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Nama “Dadapan” sendiri berakar dari kata dadap, sejenis pohon rindang yang tumbuh subur di puncak bukit. Konon, kelompok penduduk pertama kali tertarik menetap di sana karena udara pegunungan yang sejuk, berkat naungan rapat daun dadap. Keindahan dan kesejukan alam itu lantas memunculkan julukan nama “Dadapan” bagi permukiman mereka, sebuah nama yang sejak saat itu melekat dan menjadi identitas desa yang kaya akan sejarah dan kehangatan alam pegunungan.

Tersebarnya agama islam di Desa Dadapan pada abad 17 akhir, berasal seorang penghulu timur dari Tuban bernama Hasan Dipo Rekso bersama istrinya Mbah Syamsiyah, datang ke Lasem mencari sahabatnya bernama Kiai Mahalli cucu dari Mbah Sambo. Setelah sampai ke Lasem beliau tidak balik lagi ke Jawa Timur, tetapi tetap memilih untuk melanjutkan hijrahnya melewati jalur Desa Kumbo yang pada akhirnya sampai di Desa Dadapan sekaligus membangun pesanggran padepokan dan tempat pemakamannya pun di samping padepokan bersama istrinya. Disusul dengan adiknya seorang janda bernama Mbah Wasiatun atau Mbah Rodiah yang dikenal dengan sapaan Mbah Buyut Wasi. Tempat pemakamannya bertepatan di belakang sekolahan MI di Dusun Krajan/Dadapan. Biasanya dilaksanakan haul setiap awal Rabiul Awal pada hari Selasa Legi.

Seorang penghulu timur Hasan Dipo Rekso beserta keturunannya perempuan Mbah Sufiah atau Mbah Buyut Bendo, yang menikah dengan Mbah Surotomo, hingga pada akhirnya memiliki keturunan hampir 80% bersaudara pada masyarakat Dadapan. Saudara selanjutnya, Mbah Randu Supo yang tempat pemakamannya terletak Dusun Macan Ireng. Disusul lagi adiknya saudara ketiga bernama Kiai Mbah Golok atau Mbah Sirojuddin yang memiliki putra Kiai Mbah Abdul Karim. Kiai Abdul Karim ini memiliki putra Kiai Muslih yang memiliki pondok pesantren di Tanggir. Dari silsilah Hasan Diporekso beserta keturunannya tersebut merupakan dikenal seorang wali oleh warga setempat. Seiring berjalannya waktu, hari demi hari, pada tahun yang sama Abad 17 akhir, ada seorang tokoh pemerintahan Lasem, besan dari Mbah Hasan Diporekso bernama Mbah Ngatoko atau (Mbah Godek).

Pada saat yang sama, ada suatu peristiwa yaitu “Perang Dasun” di Lasem. Dalam peristiwa perang ini, akhirnya dimenangkan oleh Mbah Ngatoko (Mbah Godek), sekaligus dijadikan sebagai lurah pertama/kepala Desa Dadapan. Hal ini sebagai bentuk apresiasi oleh masyarakat hingga sampai tujuh keturunan sebagai lurah kepala Desa Dadapan. Mbah Ngatoko (Mbah Godek) ini oleh warga Dadapan selalu dilaksanakan Haul setiap pada tanggal 1 bulan Muharram dan keturunannya yang melanjutkan estafet kepemimpinan sebagai lurah kepala desa kedua bernama Soyudo. Kemudian dilanjutkan lurah ketiga H. Sondono, beliau ini wafat ketika dalam keadaan perjalanan pulang dari tanah suci mekkah setelah melaksanakan haji. Karena pada waktu sekitaran tahun 1800-an masih mengendarai kapal laut, akhirnya beliau dimakamkan di negara Singapura.

Kebetulan Bapak Dr. Abdul Qoyyum, S.E.I., M.Sc., Fin dan Abdul Aziz, M. Hum beserta saudara lainnya, masih keturunan kelima disebut cicit (udheg) dari Mbah H. Sondono. Secara silsilah, Dr. Abdul Qoyyum bin Fatmah binti Syu’aib bin Renteb binti H. Sondono. Dimana Bapak Dr. Abdul Qoyyum merupakan seorang Doktor Ekonomi Syariah di Universitas Sunan Kalijaga Yogyakarta dan pengasuh Pondok Pesantren Al Ghozali di Yogyakarta. Dan keturunan dari Mbah Sondono rata-rata memiliki potensi dan bakat kelebihan masing-masing seperti K.H. Amir Syarifuddin, S.H. seorang penghulu dan paham silsilah keluarganya dari atas hingga ke bawah. K.H. Amir Syarifuddin, S.H. bin H. Muhammad Sukardi bin H. Ahmad Sholeh bin Damin Rekso Dikromo bin H. Sondono. Mbah H. Sondono ini anak menantu dari Mbah Sufiyah (Mbah Bendo) binti Hasan Dipo Rekso.

Lurah keempat dilanjutkan oleh Mbah Sarmin Rekso Diwiryo saudara dari Mbah Damin Rekso Dikromo. Lurah kelima, Mbah Ahmad Soleh Harjo Diwiryo. Selanjutnya lurah keenam, Mbah H. Salimun (Bapaknya Zuber Kades Sekarang). Lurah ketujuh, Bapak Mohammad Toha (Kakaknya Zuber Kades Sekarang) menjabat selama dua periode. Setelah habis masa jabatannya dikarenakan maksimal dua periode saja. Akhirnya pasca keturunan ketujuh digantikan oleh Bapak Duryadi selama tiga bulan. Dan Bapak Asmari selama satu periode. Bapak Duryadi dan Asmari juga masih satu keluarga keturunan tetapi garis keturunan dari seorang Ibu. Setelah selama satu periode lebih tiga bulan, dilanjutkan kembali oleh sosok pemimpim lurah kepala desa yang asli keturunan kedelapan dari Mbah Ngatoko (Mbah Godek) yaitu bapak Zuber hingga sekarang.

Oleh karena itu, tidak heran jika warga Desa Dadapan 100% beragama islam, bahkan sangat kental dari aspek spiritual dan religiusitasnya. Karena ketika melihat silsilah latar belakang sosok seoraang pemimpin sebelumnya, mulai awalnya dari seorang pendatang penghlulu timur hingga Mbah Gudek beserta keturunannya sudah mencerminkan bahwa islam mudah untuk disebarluaskan. Dan perkembangan keagamaan di desa ini, melalui adat islam tradisional ala Wali Songo seperti melalui kegiatan kenduren, dirangkai dengan cara sederhana seperti pembacaan yasin, tahlil bersama, kultum sebagai pengingat serta nasehat pedoman hidup dunia dan akhirat kelak. Terakhir ditutup dengan doa yang mengikuti pendoa nenek moyangnya sehingga terjadi akulturasi budaya yang sama,

Sistem pembelajaran Wali Songo memang berdampak akulturasi budaya, dan menyebarkan agama dengan cara tidak menghilangkan tradisi lama, tetapi mengkolerasikan tradisi lama dengan adat yang bisa menumbuhkan dan meningkatkan spritualitas dan religiusitas masyarakat sekitarnya. Sehingga wajah kehidupan masyarakat Dadapan hingga sekarang dalam konteks praktik-praktik keagamaan sudah tidak diragukan kembali, meskipun dengan adanya atas perkembangan teknologi semakin canggih, sungguh tidak tergoyahkan sama sekali aspek spiritual dan religiusitasnya.

Narasumber: K. H. Amir Syarifuddin, S.H.

Pewarta – Penulis : Moh. Alfarizi Putra – Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kabar Rembang