You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Dadapan
Dadapan

Kec. Sedan, Kab. Rembang, Provinsi Jawa Tengah

SELAMAT DATANG DI JENDELA INFORMASI DESA DADAPAN KECAMATAN SEDAN .

Dirgahayu RI ke-80: Merayakan Kemerdekaan, Mengikhlaskan Perpisahan

Basyar 25 Agustus 2025 Dibaca 391 Kali
Dirgahayu RI ke-80: Merayakan Kemerdekaan, Mengikhlaskan Perpisahan

Dirgahayu Republik Indonesia Ke-80 bukan sekadar perayaan, tapi momentum kebersamaan dan mengenang jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan. Tema HUT ke-80 Republik Indonesia adalah “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju” merupakan visi besar negara yang diperjuangkan bersama oleh pemimpin dan seluruh rakyat Indonesia.

Tema tersebut memiliki makna yang mendalam, "Bersatu Berdaulat" mencerminkan semangat persatuan dan kerukunan antar ummat beragama, sedangkan "Rakyat Sejahtera" menekankan komitmen pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak-anak. Sementara, "Indonesia Maju" adalah cita-cita besar bangsa untuk menjadikan Indonesia emas, terutama pada saat mencapai usia 100 tahun kemerdekaan pada tahun 2045.

Dalam peringatan HUT Ke-80 ini, seluruh warga Desa Dadapan Kec Sedan, Kab Rembang, Jawa Tengah, dengan penuh semangat kemerdekaan, berpartisipasi memperingati dan memeriahkan dengan beberapa banyak kegiatan perlombaan, mulai dari kategori anak-anak, remaja, hingga ibu-ibu/bapak-bapak yang diselenggarakan langsung oleh pemerintah desa bersama mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Mahasiswa STAI Al-Anwar Sarang. Hal ini sebagai bentuk rasa syukur dan cinta pada tanah air Indonesia.

Kegiatan tersebut dirangkai sejak pada tanggal 13-19 Agustus 2025 dengan sedemikian meriah mungkin. Secara lebih rinci rangkaian acaranya sebagai berikut:

A. 13 Agustus 2025 (Futsal Sarung Ibu-Ibu)

Dadapan, Rembang – Siapa bilang futsal hanya milik kaum pria atau anak muda? Di Desa Dadapan, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, olahraga ini justru tampil dengan wajah unik dan penuh tawa. Rabu sore, lapangan desa dadapan riuh rendah oleh sorakan penonton ketika puluhan ibu-ibu beraksi dalam ajang “Futsal Sarung Ibu-Ibu”.

Dengan balutan sarung batik yang dililit rapi, kadang melorot, kadang tersangkut bola para ibu tampil penuh percaya diri. Setiap langkah, teriakan, dan gocekan bola selalu mengundang gelak tawa penonton. Atmosfer lapangan berubah menjadi pesta rakyat yang meriah.

“Main futsal pakai sarung itu seru sekali, kadang jatuh tapi tetap semangat. Yang penting bukan menang atau kalah, tapi kebersamaan dan tawa.” ujar Ibu-Ibu, salah satu pemain sambil terengah-engah namun penuh senyum.

Sorak-sorai warga semakin pecah ketika ada gol tercipta. Tidak jarang, gol justru lahir dari blunder kocak bola nyangkut di sarung atau salah tendangan. Anak-anak kecil hingga bapak-bapak turut terpingkal-pingkal menyaksikan jalannya pertandingan.

Selain hiburan, kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antarwarga. Panitia menyebutkan, Futsal Sarung Ibu-Ibu diadakan untuk menyemarakkan semangat kebersamaan, sekaligus menyambut momentum kemerdekaan dengan cara yang sederhana namun penuh makna.

“Biasanya bapak-bapak yang main bola, sekarang giliran ibu-ibu yang unjuk gigi. Ternyata semangat mereka luar biasa.” ungkap Pak Lurah Dadapan sambil tertawa lepas.

Pertandingan ditutup dengan foto bersama, diiringi tepuk tangan meriah dan musik 17 agustusan yang menambah keceriaan sore itu. Desa Dadapan kembali membuktikan, olahraga bukan hanya soal kompetisi, tapi juga sarana kebersamaan, tawa, dan cinta desa.

B. 14 Agustus 2025 (Tarik Tambang, Balon Sarung, dan Karaoke)

Suasana Desa Dadapan benar-benar pecah pada gelaran lomba rakyat yang diadakan untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan. Tiga perlombaan utama seperti Karaoke, Balon Sarung, dan Tarik Tambang, membuat lapangan desa dipenuhi tawa, sorak sorai, dan semangat kebersamaan.

Panggung karaoke jadi arena unjuk ajang mencari bakat. Dari anak-anak, remaja, hingga bapak-ibu tampil percaya diri menyanyikan lagu favorit. Sorak dan tepuk tangan penonton menambah semarak, seolah konser besar hadir di Dadapan.

Tak kalah seru, lomba balon sarung memancing gelak tawa. Para peserta pontang-panting menjaga balon agar tak pecah di balik lilitan sarung. Setiap gerakan kaku tapi lucu membuat penonton terpingkal-pingkal.

Sore harinya, Tarik tambang menjadi ajang adu kekuatan sekaligus adu strategi. Teriakan penonton membahana setiap kali tali bergeser, membuat suasana makin panas.

Acara ini menjadi bukti bahwa kemerdekaan tak hanya dirayakan dengan upacara, tapi juga dengan kebersamaan, kegembiraan, dan tawa seluruh warga. Desa Dadapan bersatu dalam semangat 17 Agustus: merdeka, guyub, dan penuh keceriaan!

C. 15 Agustus 2025 (Penilaian Lomba Kebersihan Setiap RW/RT Beserta Lomba Azan dan Tartil)

Semangat warga Desa Dadapan makin terasa saat perlombaan unik digelar: Penilaian Lomba Kebersihan antar RW/RT serta lomba Azan dan Tartil. Sejak pagi hingga malam, tiap sudut desa tampak bersih dan asri. Warga gotong-royong mempercantik lingkungan, dari halaman rumah hingga jalan kampung. Juri berkeliling menilai kebersihan, kerapian, keindahan, kreativitas, kekompakan warga dalam menjaga kebersihan dan suasana penuh semangat guyub rukun.

Sore harinya, suasana berubah khidmat sekaligus meriah. Anak-anak dan remaja tampil di panggung dengan lantunan azan dan bacaan tartil Al-Qur’an yang syahdu. Sorak sorai penonton bercampur haru, menambah kekhidmatan acara.

Perlombaan ini bukan sekadar adu juara, tetapi juga wujud nyata kepedulian warga: menjaga lingkungan tetap indah sekaligus menumbuhkan generasi cinta masjid dan Al-Qur’an.

D. 16 Agustus 2025 (Pukul Air, Balap Karung, Makan Kerupuk)

Suasana Desa Dadapan benar-benar riuh saat perlombaan khas 17 Agustus digelar. Tiga lomba utama Pukul Air, Balap Karung, dan Makan Kerupuk, membuat warga tak berhenti tertawa sepanjang hari.

Gelak tawa pecah saat lomba pukul air dimulai. Peserta dengan mata tertutup pontang-panting mencari ember berisi air, dan ketika pukulan meleset, penonton pun terbahak. Basah-basahan jadi hiburan tersendiri.

Tak kalah seru, balap karung memicu sorak sorai. Peserta melompat-lompat kaku, ada yang jatuh, ada yang tersangkut, tapi tetap semangat menuju garis finish.

Puncak keceriaan hadir di lomba makan kerupuk. Anak-anak hingga orang tua berlomba mengunyah kerupuk yang digantung, sambil menahan tawa karena kerupuk goyang-goyang ditiup angin.

Lomba ini membuktikan, kemerdekaan di Desa Dadapan dirayakan dengan tawa, kebersamaan, dan semangat gotong royong yang tak pernah pudar.

E. 17 Agustus 2025 (Upacara Hari Kemerdekaan)

Delapan puluh tahun sudah bangsa Indonesia mengibarkan Sang Saka Merah Putih di langit nusantara. Usia ini bukan hanya angka, tetapi cermin perjalanan panjang perjuangan, pengorbanan, dan doa para pendahulu yang rela menukar kenyamanan pribadi demi tegaknya sebuah bangsa bernama Indonesia.

Pada hari itu, kita bukan sekadar merayakan kemerdekaan, tetapi merenungi makna mendalam: apakah kita telah benar-benar merdeka? Merdeka dari kebodohan, dari ketidakadilan, dari korupsi, dan dari segala belenggu yang menghambat kemajuan bangsa.

Di usia yang matang ini, Indonesia dituntut tidak hanya tegak berdiri sebagai negara, tetapi juga menjadi mercusuar peradaban, teladan bagi dunia dalam menjaga keberagaman, merawat persatuan, serta menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

F. 18 Agustus 2025 (Karnaval)

Desa Dadapan berubah menjadi lautan warna dan sorak gembira saat "Karnaval" digelar. Warga dari berbagai usia turun ke jalan dengan beragam kostum kreatif, mulai dari pakaian adat, tokoh pahlawan, hingga kreasi unik penuh imajinasi.

Semarak karnaval makin heboh dengan iringan berbagai "Sound Horeg" yang menggelegar. Dentuman musik mengguncang jalanan, membuat penonton berjingkrak dan larut dalam suasana pesta rakyat. Anak-anak melambai ceria, remaja bergaya percaya diri, sementara bapak-ibu tampil penuh semangat.

Sepanjang rute karnaval, tepuk tangan, sorakan, dan gelak tawa tak henti-hentinya terdengar. Acara ini bukan hanya hiburan, tapi juga wujud kebersamaan warga yang selalu kompak dalam memeriahkan kemerdekaan.

G. 19 Agustus 2025 (Malam Tasyakuran & Pelepasan Mahasiswa KKN)

Suasana hangat penuh suka cita menyelimuti balai desa saat warga beserta seluruh peraangkat desa Dadapan berkumpul dalam "Malam Tasyakuran & Pelepasan Mahasiswa KKN." Acara ini menjadi penutup indah kebersamaan antara masyarakat dengan para mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan STAI Al Anwar Sarang yang telah satu bulan lebih mengabdi di tengah warga Desa Dadapan.

Gelak tawa terdengar saat penampilan sholawat dan ungkapan rasa syukur dibawakan, namun tak sedikit pula mata yang berkaca-kaca ketika momen perpisahan tiba. Warga mengaku bangga sekaligus berat melepas para mahasiswa yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.

“Banyak kenangan yang ditinggalkan. Semoga ilmu dan karya adik-adik KKN membawa manfaat bagi desa kami”. Ujar lurah kepala desa dengan suara menyentuh hati.

Mahasiswa pun menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas keramahan, dukungan, dan kasih sayang warga Dadapan selama mereka mengabdi.

Malam itu menjadi bukti nyata bahwa KKN bukan hanya program akademik, tetapi juga jembatan hati: menyulam persaudaraan, kebersamaan, suka cita, dan duka cita dalam perpisahan yang penuh makna.

Pewarta: Moh. Alfarizi Putra - Mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kabar Rembang